Puisi itu..

8:20:00 AM



Yang saya percaya, puisi itu bebas dan membebaskan. Puisi tidak perlu aturan, entah berupa rima, metafora, atau lipatan makna. Saya kurang setuju dengan Maman S Mahajana dalam kitab kritik sastra yang menilai puisi dengan teoritis. Menilai dengan ukuran seberapa hebat Rima, paradoks, atau makna yang terselip, mungkin juga seberapa sulit ia ditafsir. Pula betapa muluk2nya dia menyebut berpuisi sebagai kerja kebudayaan.

Kadang saya malah kesal dengan  puisi yang maknanya mahir bersembunyi. Entah sembunyi dimana, mungkin juga pengarangnya terlalu peduli rima atau metafor sampai lupa menyelipkan makna. Apa maunya?

Tapi kembali lagi, jika penyair menghendaki makna harus aman dalam persembunyian itu juga kebabasan. Jadi kekesalan saya bisa jadi hanya karena ketidakmampuan menafsir.

Saya pun suka dengan model puisi esay yg diklaim Denny JA sebagai temuannya. Puisi panjang dengan penceritaan berlandaskan suatu tema. Andai dia tak terlalu memburu ketenaran dan pengakuan mungkin malah banyak yg mengapresiasinya. Setidaknya dia tak perlu menerima hujatan.

Sekali lagi puisi bagi saya semestinya bebas dan membebaskan. Pandangan yang mengilhami Remy sylado yang membuat genre puisi mbeling. Puisi yg dengan ndablegnya mendobrak kaidah sastra yg ada. Seperti puisi keranjingan satu ini;

Pesan Seorang Ibu kepada Putranya
Jangan
bilang
kontol.

Mari berpuisi, sekenanya, semampunya, sebebas-bebasnya, senikmat-nikmatnya.

You Might Also Like

0 comments

Powered by Blogger.