Mengandaikan Nietzche dan Siti Jenar ngobrol di angkringan

6:35:00 AM



Waktu itu baca Nietzche yang ditulis ST Sunardi baru dapat setengah. Tapi baru sampai situ saya lalu ingat sosok Siti Jenar versi buku ini. Lalu saya membayangkan jika saja mereka tiba-tiba tanpa sengaja mengobrol di angkringan pas lagi neduh sewaktu otw Jogja Temanggung. Anggap saja, mereka habis kulakan kain di Jokteng.

Keduanya punya kesamaan untuk mengutuk dekadensi (kemerosotan). Bedanya, Nietzche mengutuk itu dengan gagasan ubermanschnya, sedang Siti Jenar tetap berpegang pada ajaran agama yang sejati. Kukita jenar juga bakal mengamini anggapan Nietzche bahwa agama itu menghambat. Ini apabila situasinya seperti di masa Nietzche. Agama tak lebih dari aturan formal yang mengangkangi nalar, mengajarkan kepasrahan tanpa mendorong usaha mengatasi masalah, dan ajaran dosa yang dogmatis.
.
Jenar juga kesal dengan cara beragama yang diajarkan majelis Kiai Demak di masa itu. Agama tak ubahnya alat legitimasi kuasa, bahkan alat untuk menguasai. Kegelisahan umat tidak diatasi, namun justru diberi iming-iming hadiah jika menjalankan ketaatan. Ketaatan tanpa nalar. Ketaatan tanpa pernah mempertanyakan.

Lalu saya membayangkan, jika tiba-tiba si penjual angkringan nyeletuk. "Mas Pilkada DKI rame ya?" Nietzche dan Jenar kukira bakal geleng-geleng gagal paham. Bukan karena pertanyaannya salah, tapi situasi manusia di masa itu yang membuatnya begitu. Kupikir potret beragama seperti ini yang betul-betul dibenci oleh Jenar. Bagaimana agama dijadikan dagangan politik. Apalagi yang jualan adalah mereka yang mengaku pemuka agama. Dibantu pula lembaga agama yang sah.

Kalau Nietzche tentu jelas, dia tidak mengakui agama. Melihat yang begitu ya mungkin ketawa aja. "Kog ya masih aja sih manusia-manusia ini semakin merosot karena agamanya".

Lalu, si penjual nyeletuk lagi "emang Tuhan melarang pemimpin kafir ya?". Di sini Nietzche menjawab cepat. "Tuhan udah mati mas, kita bunuh rame-rame". Si penjual angkringan yang kaget lalu menimpali, "wong edan!". Si Jenar tiba-tiba ikut menengahi, "Tuhan udah dibunuh emang mas, kalau kelakuan manusianya tidak mencerminkan adanya Tuhan". Disaat begitu ada ormas berjubah mendengar kalimat Jenar. Ia diteriaki dan dikejar.

Lalu keduanya beranjak, si Nietzche dianggap gila sama penjual angkringan. Sedang si Jenar saat yang tak lari ketika dikejar memilih mati. Menjadi satu dengan Tuhannya. Tamat. 

You Might Also Like

0 comments

Powered by Blogger.