Jangan Sepelekan Kuli Bangunan

4:12:00 AM



Kukatakan padamu kawanku, tiap-tiap yang bekerja itu mulia! Aku menulis ini ketika bajuku masih belepotan adonan cor-coran. Aku duduk memegang hpku saat "rolasan" di tengah proyek rumah senilai 1/2 M. Ini di kampung, uang segitu sangat banyak. Itu cukup untuk membuat rumah luas dua lantai.

Aku tak asing memang dengan profesi kuli bangunan. Aku enggan menceritakan kenapa aku akrab dengan kerja ini. Yang pasti aku cukup mengenal orang-orang yang seharian diterpa panas hujan, dan bermandi keringat sepanjang siang. Ditambah sedikit jam malam kalau ada lemburan.

 Mereka yang bekerja ini biasanya tanpa punya pilihan untuk kerja lain. Jika di kampung, biasanya lahan mereka terlampau sempit untuk dijadikan pemasukan tetap. Kebutuhan hidup terlalu melimpah untuk dicukupi hasil pertanian yang tak mungkin diandalkan harian. Alhasil, menjadi kuli bangunan adalah pilihan yang sangat memungkinkan.

Aku ceritakan tentang jam kerja. Mereka mulai bekerja sekitar pukul 07.30. Tidak ada waktu tetap mulainya jam berapa, tak ada absen digital. Biasanya pagi bagi yang punya ternak telah lebih dulu mengumpulkan pakan di ladang. Usai itu, kopi dan pengganjal perut akan mereka lahap. Jarang sepagi itu ada yang sarapan nasi. Jika memang terlampau lapar, nasi sisa semalam biasanya jadi santapan.

Kerja dimulai pagi itu sampai cukup lelah di pukul 09.30. di jam ini mereka bakal istirahat' sejenak. Rehat jam sekian istilahnya adalah "wolon". Wolon kata dasarnya adalah wolu/delapan. Mulanya kata ini dipakai karena kerja bahu dimulai pagi sekali, dan pukul 8 sudah sangat ideal untuk rehat. Teh nasggitel, gorengan, dan lintingan biasa menemani rehat pertama ini.

Kerja berlanjut sampai tengah hari, istilahnya rolasan. Kata dasarnya rolas/ dua belas. Rehat utama yang cukup untuk makan siang, sembahyang dan sedikit rebahan. Kerja dimulai lagi ba'da Dzuhur sampai asar. Dan berakhir pukul 17.00.

Kerja bangunan di kampung begini terbagi jadi beberapa tugas. Ada istilah mandor, tukang, dan Laden/pelayan. Tukang disini berarti dia sudah punya kecakapan, misal menata bata,  memasang plafon, atau memasang keramik, dll. Laden adalah kerja otot yang tak terlalu butuh kecakapan khusus. Kerjanya menyiapkan adonan semen, mengangkat beban, dll.

Jika yang diberlakukan adlah upah harian, untuk tukang biasanya diupah Rp 70.000,00. Untuk Laden biasanya diupah 55.000. upah itu memang kecil sekali, tak ada UMR yang berlaku untuk kerja kuli bangunan di kampung. Yang ada adalah kesepakatan di awal, kesepakatan di awal ini tentu ada nilai minimalnya. Angka minimal ini tidak ada aturan tertulisnya, tapi orang sudah paham.

Upah di atas bukan jumlah yang besar untuk hidup sekarang. Tapi, apa daya, kerja ini dibutuhkan untuk sekadar bertahan. Anak-anak mereka butuh uang saku tiap hari. Lauk berprotein tak selalu bisa didapat di ladang. Hidup di kampung juga tak pernah lepas dari "pirukunan". Ini adalah istilah untuk menyebut macam kegiatan yang membutuhkan uang sumbang, semacam kondangan, layatan, jenguk orang sakit, jenguk bayi, dll.

Akan kuceritakan bagaimana kuli bangunan tetap berbahagia di tengah kerasnya kerja. Tapi bagusnya lain waktu saja. Ternyata tidak memungkinkan jadi kuli bangunan sambil jadi penulis. Lelah sekali.



You Might Also Like

0 comments

Powered by Blogger.