Besok Aku Mau Jumpa DIDI KEMPOT!

6:15:00 AM


“tiwas aku dandan mlipit / rambutku lengane pomit/ malah ke lunga plencing/ ora pamit mit mit mit mittt”.

Tentu pernah dengar kan nama Didi Kempot? Keterlaluan kau kalau belum. Legenda hidup, local heroes, Bruno Mars Indo, duta Tranportasi, gondrong abadi, dan apalagi ya? oh anu, mas Suket Teki.
 Yang di atas kukutip itu lirik lagu judulnya “Sekonyong-konyong Koder”. Lagu itu sudah kuhafal sejak SD mungkin. Atau malah sejak TK. Itu karena dulu ada salah satu acara tv di TVRi yang tak pernah keluargaku lewatkan. Kalau tidak salah itu nama acaranya “Glethak-Glethik Campursari”. Acara habis maghrib. Keluargaku biasanya memutar itu sembari makan malam.

Dari situ telingaku ini akrab dengan lagu-lagu ciptaan Didi Kempot. Aku banyak sekali menghafal lirik-lirik kegagalan asmara yang mendominasi lagu-lagunya. Walau waktu itu tentu aku tak paham bagamaina rasanya. Misal membayangkan ditinggal kekasih di Stasiun, menunggu pulang kekasih di pelabuhan, atau juga bagaimana rasanya menangis di Parangtritis Rabu malam Kamis. Saya tak paham, tapi saya hafal. Bahkan di SD dulu, ada lomba karaoke salah satu lagu wajibnya adalah “Sewu Kutha”. Tentu aku ikut. Tapi waktu itu range vokal mas Didi Terlampau tinggi buatku. Aku fals sepanjang lagu.

Kelas 3 SMP aku belajar main gitar. Salah satu lagu yang akhirnya sering kumainkan adalah Sewu Kutha. Selain karena hafal, chord lagu Mas Didi ini sederhana. Progresi kordnya tak pernah aneh-aneh. Aku sepakat aja kalau banyak yang bilang, DIdi Kempot itu bukan campur sari, tapi pop berabahasa jawa.

Semasa kuliah aku pernah baca artikel yang menyebut Didi Kempot sebagai duta transportasi. Ini adalah satu kesimpulan brilian yang tak pernah kupikirkan sebelumnya. Setelah kuangan-angan tepat sekali rupanya. Satu-satunya moda transportasi yang tidak dibikin lagu hanyalah pesawat. Mungkin mas Didi Jarang naik pesawat, mungkin juga dia tak ingin membuat iri pendengarnya yang saya yakin kabanyakan tak kuasa membeli tiket pesawat. Dan menariknya lagi, semua moda transportasi ini memberi luka buat mas Didi. Ya sebut saja “Tanjung Mas Ninggal Janji”, “Sewu Kutha”, “Terminal Tirtonadi”. Bahkan hingga yang akhir-akhir ini kudengar berjudul “Dalan Anyar” rupanya masih juga galau. Kalau Mas Didi ini menulis lagu berdasarkan pengalaman nyata, aku yakin walau dia musisi terkenal, hidupnya pasti penuh derita. Ini mau kutanyakan besok.

Ada lagi lagu yang cukup dekat denganku belakangan ini, adalah “Suket Teki”. Lagi-lagi tentang patah hati. Lagu ini dipakai kawan-kawanku untuk memberi sokongan moril, mengejekku. Tapi gara-gara itu, aku jadi hafal lagu ini. Dan besok aku sudah berencana untuk sing along keras sekali.

oya lupa kuceritakan, besok sore ini aku mau ketemu mas Didi untuk wawancara majalah. Ada banyak pertanyaan di kepalaku yang entah mewakili keingintahuan pembaca atau tidak. Tapi persetan, pertanyaan-pertanyaan dikepalaku ini tetap bakal kutanyakan. Mungkin besok aku bakal berlaku sebagai fans didepannya.  Itu janjiannya besok sore, kau boleh nitip pertanyaan kalau mau.

Rencananya, sore aku ketemu buat wawancara, malamnya aku berencana menonton di barisan depan. Aku tidak peduli, pokoknya mau sing along, crowdsurfing sekalian kalau boleh.  Aku belum pernah nonton legenda hidup ini langsung di panggung. Dia salah satu yang kuincar selain Rhoma Irama. Aku tidak pedul juga besok mau ada Barasuara kek, SID, Navicula, Elephant Kind, PAyuh teduh, Silampukau. Nggak peduli, pokoknya besok mau dibarisan depan menonton mas Didi.


Bersambung ya, besok kuceritakan bagaimana rasanya ketemu mas Didi Kempot! Unch, aku sudah tidak sabar… 

You Might Also Like

0 comments

Powered by Blogger.