Aku dan film India melawan Matinya hati

3:02:00 AM

Ini bukan parodi dari buku mahfud ikhwan. Dia membuat tulisan di buku itu dengan sangat oke. Kupikir aku tak layak untuk sekadar memparodikan tulisan beliau. aku hanya terinspirasi saat membuat judul.

Begini, apa kau pernah mengalami situasi ingin bersedih? Iya betul, ingin bersedih. Walau tanpa alasan. Atau alasanya sesederhana, “kog datar banget sih hidupku”. Atau boleh juga kau  ingin mencari hiburan dengan jalan bersedih. Pernah? Atau hanya orang tidak waras yang melakukan itu? Sialan, kau bilang iya? Jadi menganggapku tidak waras? kau tau, Aku  sering melakukan hal itu.

Kau tau, entah itu di malam yang terasa panjang. Atau ketika siang yang begitu terik. Terkadang aku ingin mengetes apakah hatiku ini masih bekerja. Sesederhana, apa aku masih bisa menangis? Dan cara termudah lagi menyenangkan untuk mengetesnya bagiku adalah menonton film. Aku tinggal perlu menyendiri di kamar, memutar film sedih.

Jika situasinya seperti itu, aku selalu menempatkan diri menjadi si tokoh. Mencoba merasakan apa yang mungkin dirasakan si tokoh. Kalau sudah begitu, kadang aku tak terlalu melihat bagaimana cerita film dialirkan dialirkan. Aku lebih ingin merasakan bagaimana emosi dimainkan. Sudah itu saja.

Dan kebanyakan film yang berhasil membuatku lega karena aku tahu hatiku masih berfungsi adalah film india. Oke kalau kau snob kau boleh menertawakanku. Bangsa ini memang dipenuhi oleh orang –orang snobis dungu. Itu kalau kata mahfud ikhwan. Aku sih mengamini saja.

Kalau aku sejauh ini menduga, kenapa film india sedih kerap berhasil membuatku menangis adalah duah hal. Konflik yang dialami itu mungkin akan aku alami juga. Missal jika dilihat secara ekonomi, sosial dan politik. Kupikir india da Indonesia tidak jauh-jauh amat. Yang kedua adalah banyak adegan sederhana dengan emosi yang kuat. Adegan emosional itu tidak melulu dengan muluk seperti di film titanik. Aku kadang menemukan adegan yang bisa tiba-tiba membuat mataku sembab hanya karena dialog diatas kereta yang berimpit. Hal-hal seperti itu yang aku kerap dapati.

Ada beberapa judul film india yang membuatku menangis. Tapi aku sebetulnya tidak terlalu ingin membeberkan judul-judul itu. Hmm, tapi untuk contoh bolehlah aku beberkan dua saja yang rela kubagi. The Lunchbox dan English Vinglish. dua film ini berhasil membuatku menangis. Tapi aku tak terlalu bersemangat menjelaskan kenapa film ini membuatku menangis. Jika kau tertarik tonton saja sendiri. Sinopsisnya juga bisa kau cari. Yang pasti, ini adalah dua dari banyak film yang membuatku yakin hatiku sebagai alat perasa masih berfungsi.

adegan dalam the luncbox

Biasanya setelah menonton film yang menohok perasaan aku akan keluar kamar dengan sebatang rokok di tangan. Lalu mencoba merenungkan adegan-adegan yang masih terekam. Setelah lelah aku akan mencari kawan untuk kutanyai beberapa hal. Kawan kontrakanku biasanya jadi korban. Kalau aku sudah tanya aneh-aneh dia pasti akan bertanya balik. “koe bar nonton film opo to (Kau habis nonton film apa)?”. Aku cuma nyengir, lalu pelan-pelan menyemburkan asap rokok. Lalu kulanjutkan pertanyaan-pertanyaan yang aku ogah kalau batinku sendiri saja yang terganggu.


You Might Also Like

0 comments

Powered by Blogger.